Ciri-ciri Sukses Meneladani Tuhan

Oleh : Ahmad Munjin

 

Hakikat takwa yang jadi tujuan akhir puasa adalah kesuksesan meneladai sifat-sifat Tuhan. Inilah ciri-cirinya. Apakah Anda masuk dalam kategori itu?

Hasan Al Bashri, seorang ulama sufi Madinah pada masa kekhalifahan, menggambarkan keadaan orang yang meneladani Tuhan sehingga mencapai tingkat takwa yang sebenarnya.

Albashri mengungkapkan, “Anda akan menjumpai orang tersebut: teguh dalam keyakinan, teguh tapi bijaksana, tekun dalam menuntut ilmu dan semakin berilmu semakin merendah.

Lalu, semakin berkuasa semakin bijaksana, tampak wibawanya di depan umum. Jelas syukurnya di kala beruntung, menonjol qona’ah (kepuasan)-nya dalam pembagian rezeki, senantiasa berhias walaupun miskin.

Selalu cermat, tidak boros walaupun kaya, murah hati dan murah tangan, tidak menghina, tidak mengejek, tidak menghabiskan waktu dalam permainan, dan tidak berjalan membawa fitnah. Disiplin dalam tugasnya, tinggi dedikasinya, serta terpelihara identitasnya, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain.

Kalau ditegur ia menyesal, kalau bersalah ia istighfar, kalau dimaki ia tersenyum sambil sambil berkata, ‘Jika makian Anda benar, aku berdo’a semoga Tuhan mengampuniku. Dan, jika makian Anda keliru, aku bermohon semoga Tuhan mengampunimu’.

Rasulullah, atas nama Tuhan menggambarkan, “Seorang hamba akan mendekatkan diri kepada-Ku (Tuhan) hingga aku mencintainya, dan bila Aku (Tuhan) mencintainya, menjadilah pendengaran-Ku yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan-Ku yang digunakan untuk melihat, tangan-Ku yang digunakannya untuk bertindak, serta kaki-Ku yang digunakan untuk berjalan.” (Hadits Qudsi).

Menurut M Quraish Shihab, Guru Besar Tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, hamba yang digambarkan dalam hadits di atas, memperoleh hal tersebut karena ia berusaha dan berhasil meneladani Tuhan di dalam sifatnya.

Langkah untuk itu, dilakukan dengan berpuasa, yang mengantarkannya pada takwa dan yang mempunyai ciri yang sangat luas: sama halnya dengan Al-Shirath Al-Mustaqim (jalan yang luas dan lurus). “Karena keluasan dan
kelurusannya, ia dapat menampung banyak jalan yang berbeda-beda selama jalan-jalan tersebut penuh dengan kedamaian,” kata Quraish dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an.

Allah berfirman, Tuhan memimpin (dengan Kitab Suci Al-Qur’an) orang yang mengkikuti keridhaan-Nya menuju jalan-jalan kedamaian, mengeluarkan mereka dari gelap gulita menuju cahaya yang terang benderang,dan (akhirnya) mengantar mereka ke jalan luas lagi lurus (QS 6: 16).

Ini berarti, lanjut Quraish, bahwa perbedaan-perbedaan jalan selalu dapat ditampung oleh Al-Shirath Al-Mustaqim, selama jalan-jalan tesebut bercirikan kedamaian, keamanan, dan keselamatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: