Dua Wanita Tua Keturunan itu Jadi Pemulung

JAKARTA (Pos Kota)- Jalannya terseok-seok menelusuri Jalan Pekojan dan sekitar Pasar Pagi, Tambora, Jakarta Barat. Nyaris tiap hari mereka lakukan. Seperti Rabu (3/8), pekerjaan yang terpaksa mereka lakukan itu tetap dilakoni. Demi sesuap nasi.

Memang pandangan ini meski sudah biasa bagi warga sekitar, namun tidak bagi yang kali pertama menyaksikannya akan menjadi tidak biasa. Betapa tidak. Dua wanita tua yang sudah sangat renta itu adalah dari keturunan China.Mereka berdua harus memulung agar bisa melanjutkan hidup.

Seperti sudah menjadi padangan umum orang Jakarta. Warga keturunan biasanya kehidupan ekonominya pasti jauh lebih baik dari warga pribumi. Kalaupun ada yang miskin seperinya tidak ada yang mau jadi pemulung. Namun pandangan itu terbantahkan dengan kehadiran dua wanita renta ini.

Seperti yang tampak kemarin, dengan setianya mereka berdua memunguti bekas kemasan minuman plastik, di tangan sebelahnya menggenggam bak sampah yang sudah rombeng mereka tanpa menghindari sengatan matahari.

Jalannya terseret-seret, namun gumpalan otot menonjol di kakinya. Usai mendapat barang bekas, seperti gelas bekas minuman plastik, kaleng rombeng, kardus dan lain sebagainya, kedua wanita itu lalu menjualnya ke lapak atau juragan pemulung tak jauh dari Jalan Pekojan. Hasilnya tidak lebih dari Rp 3000 untuk mereka makan berdua.

Tidak banyak yang bisa dikorek mengenai latar belakang kedua wanita itu . Tidak jelas apakah mereka berdua punya sanak famili.Maklum mungkin karena penderitaan hidup yang berat dan juga karena sudah termakan usia, mereka sulit diajak bicara. Terlebih karena mereka menggunakan dialek bahasa Mandarin.,

“Umul tua, siapa mau cali kasih kelja, kalu bukan kumpul-kumpul balang bekas, buat lappet cien susah punya , pu haw. (Umur sudah tua tak ada yang mau memberikan lapangan pekerjaan. Kalau bukan menjadi pemulung , untuk mendapatkan uang sangat susah, kurang bagus).” kata Tineke satu nenek yang mengaku berusia 1 abad.

Sementara nenek yang satu lagi lebih sulit lagi diajak biacara. Sepertinya menutupi masa lalunya. Hanya saja yang layak dicontoh dari kedua wanita ini. Mereka tidak mau hanya jadi pengemis dan menggantungkan hidup dari belas kasihan orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: