Skenario Pasar Jika AS ‘Down Grade’

Meski batas atas utang AS telah disepakati parlemen, bukan berarti AS lepas dari ancaman down grade peringkat kredit. Pasar finansial global pun ditengarai bakal terguncang. Seberapa parah?

Ekonom Standard Chartered Bank Eric Alexander Sugandi mengatakan, walaupun tercapai kesepakatan kenaikan batas atas utang AS (debt ceiling) tidak cukup untuk mencegah lembaga pemeringkat untuk men-down grade peringkat utang AS. Sekarang, pertanyaannya, apakah jika penurunan peringkat oleh Standar & Poor’s Rating Service akan diikuti Moody’s dan Fitch Rating.

Menurutnya, jika ketiga lembaga rating itu kompak men-down grade AS, akan terjadi guncangan besar pada pasar finansial. “Tapi, jika hanya S&P saja yang men-down grade, guncangan tersebut hanya terjadi dalam jangka pendek. Impact-nya, akan lebih kecil, dibandingkan ketiga-tiganya yang men-down grade,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (3/8).

Reaksi pasarnya bagaimana? Menurut Eric, yang paling mungkin akan terjadi adalah bank-bank sentral, hedge fund maupun real money fund, akan menurunkan kualifikasi obligasi yang boleh mereka pegang. “Selama ini, mereka melihat US Treasury paling aman karena peringkatnya di level AAA,” ucapnya.

Tapi, jika mereka tidak melakukan penyesuaian, sektor finansial global bisa kacau. Sebab, Bank-bank sentral, hedge fund maupun real money fund sudah terlanjur memegang US Treasury dalam jumlah besar.

Jika mereka mengijinkan investasi pada investasi portofolio dengan peringkat yang lebih rendah dari level AAA, bisa membantu mengurangi keguncangan di market. “Tapi, pada saat terjadi downgrade tetap akan terjadi goncangan pada sistem finansial,” ungkap Eric.

Apakah guncangan itu bersifat jangka panjang? Menurutnya, hal itu sangat tergantung apakah lembaga rating kompak men-down grade dan bagaimana reaksi dari bank-bank setral, hedge fund dan real money fund.

Bagi Indonesia sendiri, menurut Eric ada dua skenario. Pertama, bagi investor yang bertipe menghindari risiko (risk aversion) atau konservatif, akan mengurangi rata-rata risiko tertimbang mereka. Jika US Treasury di-down grade, mereka akan mengurangi porsi kepemilikan mereka pada obligasi di emerging market.

“Sebab, peringkat obligasi di emerging market lebih rendah dibandingkan US treasury,” papar Eric. Dia menjelaskan, meski peringkat emerging market ada yang sudah masuk kategori investment grade, tapi peringkatnya hanya BB atau BB+.

Skenario kedua adalah investor yang melihat down grade AS sebagai momentum untuk melihat emerging market sebagai alternatif. Apalagi, aset-aset finansial di emerging market menorehkan return yang cukup baik dan beberapa negara ditopang oleh fundamental yang kuat seperti Indonesia dan Brazil.

Kondisi ini, lanjutnya, akan memicu mereka untuk menambah jumlah portofolio di emerging market. Ini sangat tergantung pada masing-masing bank sentral, hedge fund dan real money fund. “Untuk sementara, pasar Indonesia cukup diuntungkan, karena hedge fund cenderung berburu aset-aset di Indonesia,” tandasnya.

Tapi, Eric mengingatkan, untuk jangka panjang, pasar harus mencermati apakah reaksi investor cenderung risk aversion (menghindari risiko) atau justru melihat Indonesia jadi peluang alternative yang baru selain US Treasury. Kondisi itu akan menunjang penguatan bursa saham, rupiah dan obligasi Indonesia lebih lanjut.

Selama ini, yang menjadi alternatif US Treasury adalah emas. Jika AS di-down grade, komoditas pun menjadi alternatif sehingga memicu harga dan membahayakan perekonomian dunia. Mereka juga mencari celah, instrument investasi apa yang bisa mereka masuki di emerging market. “Mereka juga bisa melirik dolar Singapura yang relatif stabil. Jadi, ada dua posibilitis,” paparnya.

Di atas semua itu, Eric menegaskan, AS tetap berpeluang di-downgrade. Sebab, yang dibutuhkan AS untuk menggerakkan ekonomi jauh lebih besar dari kenaikan batas atas uang AS sebesar US$2,1 triliun dan pemangkasan anggaran sebesar US$2,4 triliun. “Itu diperkirakan tidak cukup,” imbuhnya.

Capital outflow jadi ancaman akibat risk aversion. Tapi, dia mengakui penilaian ini terlalu dini untuk melihat reaksi pasar atas peluang down grade AS. Sedangkan sektor riil Indonesia akan terganggu jika pertumbuhan AS benar-benar mengalami perlambatan sehingga mengganggu kinerja ekspor. “Tapi itu bukan skenario kami. Kami tidak melihat akan adanya resesi gelombang kedua (double dip),” imbuh Eric.

Asal tahu saja, lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service menegaskan penegasan rating AAA untuk kredit AS setelah anggota parlemen AS sepakat untuk meningkatkan plafon utang negara ini, yang akan memungkinkan Departemen Keuangan untuk menjaga kewajiban pembayaran utang AS.

Hanya saja, rating ini ditetapkan dengan negative outlook dan sinyal untuk downgrade masih mungkin dalam waktu 12 sampai 18 bulan ke depan. Dalam sebuah pernyataan, Moody’s mengatakan akan ada risiko downgrade jika (1) terjadi pelemahan disiplin fiskal di tahun mendatang, (2) jika langkah-langkah konsolidasi fiskal tidak diadopsi pada tahun 2013, (3 ) jika prospek ekonomi memburuk secara signifikan, atau (4) ada peningkatan yang signifikan dalam biaya dana pemerintah AS.

Lembagai pemeringkat lain, Fitch Rating Service juga mendukung peringkat teratas AAA kredit AS tetapi mengatakan itu bisa berubah jika terjadi pelemahan mendasar dalam ekonomi. Butuh usaha yang keras dari AS untuk mempertahankan peringkat tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: