6 Ramadhan 1431H – Tafsir Ayat : Hukum Puasa Ramadhan (2)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bismillahirrahmanirrahiim,


Hukum Puasa Ramadhan (2)

 

Qs 2:187“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakan puasa itu sampai malam, tetapi janganlah kamu campuri mereka itu, ketika kamu tengah beri’tikaf didalam masjid”

 

Ini merupakan rukhshah dari Allah bagi kaum muslimin dan Allah menghilangkan perkara yang dijalankan pada permulaan Islam.

Pada masa itu, apabila seorang muslim berbuka, maka dihalalkan baginya makan, minum, dan berjima hingga shalat isya atau dia tidur. Apabila dia sudah tidur atau shalat isya, maka  haram baginya makan, minum, dan berjima hingga malam berikutnya. Maka mereka mendapat kesulitan yang besar karenanya. Demikianlah menurut pendapat sekelompok ulama yang terdiri atas Ibnu Abbas dan beberapa tabi’in.

 

Sehubungan dengan firmah Allah, “Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka” , Ibnu Abbas dan ulama lainnya berkata, “Mereka dapat membuatmu tenteram dan kamu pun dapat membuat mereka tentram” . Adalah sangat tepat bila Allah memberi mereka kemurahan untuk bergaul pada malam Ramadhan agar hal itu tidak memberatkan dan menyusahkan mereka.

 

Sebagaimana telah dikemukan, ayat tersebut diturunkan karena, “Apabila seorang sahabat berpuasa, yaitu sebelum difadhukannya puasa Ramadhan, Kemudian dia tertidur sebelum berbuka, maka ia tidak boleh makan dan sejenisnya”.

 

Qais bin Sharimah al Anshari pernah berpuasa, pada hari itu dia bekerja di ladang. Ketika waktu berbuka tiba, dia menemui istrinya seraya bertanya, ‘ Apakah kamu punya makanan? ’ Istrinya menjawab, ‘ Tidak punya, tetapi kami akan pergi mencarikannya untukmu ’. Qais tidak tahan menahan kantuk sehingga dia pun tertidur. Kemudian istrinya datang. Ketika dilihat suaminya sudah tertidur, dia berkata, ‘ Rugilah kamu! Mengapa kamu tidur? ’ Ketika esoknya Qais berpuasa sampai tengah hari, maka dia pun pingsan.

 

Kemudian hal itu diceritakan kepada Rasulullah saw. Maka turunlah ayat, ” Dihalalkan bagi kamu berjima’ dengan istrimu pada malam puasa…Makan dan minumlah hingga nyata bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar”. Maka orang-orang sangat bergembira karenanya.

 

Firman Allah, “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka…”. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan kasus Qais bin Sharimah yang diceritakan sebelumnya, karena disana ada seorang muslim yang tidak mampu menahan nafsunya. Mereka menggauli istri mereka pada malam bulan Ramadhan, yaitu setelah isya dan setelah tidur.

 

Diantara mereka yang melakukan hal itu adalah Umar bin Khaththab. Perbuatan semacam itu dilarang sebagaimana telah diutarakan, sebab sebelum itu, apabila mereka telah shalat isya mereka diharamkan berjima’, makan, dan sejenisnya. Kemudian mereka mengadu kepada Rasulullah saw sehingga Allah menurunkan ayat, “Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu”. Maksudnya, kamu menggauli istrimu, makan, dan minum setelah isya.  ” Karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang gaulilah mereka”, yakni campurilah mereka, “dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu ”, yaitu anak, “dan makan serta minumlah kamu hingga terlihat jelas olehmu benang putih dari benang hitam “, yaitu fajar. ” Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam. Hal itu merupakan pemaafan dan rahmat dari Allah. Maka Allah membolehkan makan, minum, dan berjima’ pada seluruh malam sebagai kemurahan, rahmat dan kasih sayang dari Allah. Firman Allah: “Makan dan minumlah kamu hingga nyata bagimu benang putih dari benang hitam karena fajar,” yakni hingga jelas terangnya pagi dari gelapnya malam. Dan untuk menghilangkan kesamaran, maka Allah berfirman “Yaitu Fajar.” (Ibnu Katsir jld 1/h. 298-300)

 

Firman Allah, “Janganlah kamu campuri mereka ketika kamu tengah beritikaf dalam masjid ”. Sebelumnya, orang-orang beritikaf di masjid suka keluar kemudian mereka berjima semaunya. Kemudian turunlah ayat ini yang melarang mereka berbuat demikian sebelum mereka menyelesaikan i’tikafnya. Yakni janganlah kamu mendekati istrimu selagi kamu beri’tikaf dimesjid. Dengan demikian, diharamkan kepada orang yang beri’tikaf bercampur dengan istrinya. Apabila dia mesti pulang ke rumah karena ada suatu kebutuhan, maka dia mesti memenuhinya dalam kadar waktu yang cukup untuk makan atau buang air, misalnya. Dia tidak boleh melakukan perkara selain i’tikaf. (Ibnu Katsir jld 1/h.302-303)

Wassalam Warahmatullahi Wabarakatuh,

Arief Zulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: