Wanita-Wanita Sholihah Pengukir Sejarah (2)

Asma’ binti Abu Bakar

 

Nama lengkapnya adalah Asma’ binti Abu Bakar As-Shiddiq. Lahir pada tahun 27 sebelum Hijriyah, dan termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam (Assabiqun Awwalum).

 

Asma’ adalah saudara dari Aisyah Radhiallahu anhu , istri Rasulullah SAW. Beliau berdua adalah putri dari sayyidina Abu Bakar as-shiddiq, sahabat Rasululllah SAW. Menikah dengan Zubair bin Awwam bin Khuwailid Al Sadi, anak dari bibi Rasulullah SAW.  Zubair masuk Islam bersama sahabat – sahabat  yang pertama masuk Islam (as sabiqunal awwalun) dan dikenal sebagai salah satu dari orang-orang yang telah dijanjikan masuk surga.

 

Asma’ mempunyai kepribadian yang sangat istimewa, cerdas, cerdik, lincah, pemurah dan pemberani. Beliau mampu meyakinkan musuh-musuh Islam tentang keberadaan Rasulullah SAW dan ayahnya Abu Bakar . Begitu pula ketika Abu Jahal datang menanyakan keberadaan Rasulullah dan ayahnya. Beliau tidak gentar  mendengarkan suara Abu Jahal yang menggelegar keras  bahkan ketika beliau mendapatkan pukulan keras. Beliau tidak sedikit pun bergeming. Ini merupakan bukti kepribdiannya yang kokoh dan keimanannya yang tinggi.

 

Asma’ adalah orang yang menjunjung tinggi harga diri bukan perasan tinggi dari makhluk  Allah lainnya, naudzu billah min dzalik, melainkan karena karunia akal dan hati yang dimiliki manusia.

 

Keterlibatan Asma’ dalam dakwah terlihat pada peristiwa hijrah. Asma’ mendapatkan tugas mengantarkan bekal makanan untuk Raslullah dan ayahnya. Dengan  tiada rasa takut dan gentar sedikitpun beliau keluar dari kota Mekah pada malam hari  tanpa menghiraukan gelapnya malam dan bahaya binatang buas yang sewaktu-waktu bisa mengancam. Beliau betul-betul bertawakkal kepada  Allah SWT. Sampai akhirnya beliau tiba di gua Tsur tempat Rasulullah SAW dan ayahnya bersembunyi. Pada saat itu beliau tidak memiliki tali untuk mengikat bekal Rasulullah SAW dan ayahnya maka tanpa berpikir panjang beliau menyobek ikat pinggangnya menjadi  dua bagian, satu untuk mengikat bekal dan satu lagi menjadi ikat pinggang. Pada saat itulah Asma’ mendapat julukan ‘dzatun nithaqain’ dari Rasulullah SAW yang berarti pemilik dua sabuk.  Rasulullah SAW bersabda,” Sesungguhnya Allah telah mengganti ikat pinggangmu ini dengan dua ikat pinggang di surga”. Keberanian dan pengorbanan Asma’ pada peristiwa ini tiada bandingnya.

 

Suatu ketika kakeknya, Abu Qahafah yang buta dan masih musyrik datang. Abu Qahafah sangat tidak rela anaknya Abu Bakar memeluk agama Islam. Tidak henti-hentinya ia mencaci maki. Ia tidak suka Abu Bakar yang menghabiskan hartanya untuk berinfak dan berjuang di jalan Allah. Asma’ dengan kecerdasannya  berhasil meyakinkan kakeknya bahwa ayahnya mempunyai banyak simpanan uang untuk keluarganya dengan mengisi  kantong-kantong uangnya dengan kerikil lalu mengguncang-guncangkannya. Kekeknya mengira itu adalah benar-benar uang. Asma’ melakukan hal itu semata-mata ingin menyenangkan hati sang kakek. Asma’ tidak ingin mendapatkan bantuan apapun dari orang musyrik walaupun orang itu adalah kakeknya sendiri.

 

Dari pernikahannya dengan Zubair bin Awwam, Asma’dikaruniai  seorang putra yang diberi nama Abdullah bin Zubair bin Awwam. Diriwayatkan bahwa kelahirannya merupakan kelahiran yang dinanti-nantikan karena merupakan anak pertama yang lahir dalam Islam di kota Madinah. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Zubair lahir pada saat orang tuanya hijrah dari kota Mekah ke Madinah.

 

Asma’ mendidik putranya menjadi pribadi yang kuat dan menanamkn ketaatan ibadah dalam diri putranya. Asma’ menurunkan rasa bangga atas Allah dan Rasulnya. Abdullah tumbuh menjadi pribadi yang mempunyai sifat-sifat dan akhlak yang terpuji, mempunyai keutamaan-keutamaan yang luhur dan mempunyai peran  yang menonjol dalam panggung  jihad. Abdullah bin Zubair juga dikenal sebagai salah satu dari ke empat orang-orang terkemuka dalam bidang Hadits (al Ibadalah al Arbaah).

 

Asma’ adalah seorang muhajirah yang agung. Asma adalah seorang istri yang sangat memuliakan suaminya meskipun Zubair hanya seorang pemuda miskin yang tidak mampu menyediakan pembantu buatnya. Beliaulah isteri yang senantiasa sabar dan setia berkhidmat untuk suaminya, sanggup bekerja keras merawat dan menumbuk sendiri biji kurma untuk makanan kuda suaminya di saat Zubair sibuk menjalankan tugas-tugas yang diperintah Rasulullah kepadanya.

 

Bersama suaminya, Zubair bin Awwam, Asma membangun keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, bukan kerena harta yang melimpah ruah, tetapi  limpahan barakah dan rahmat dari Allah SWT kepada keluarganya yang menjadikan kecintaan mereka hanya kepada Allah dan Rasul di atas kecintaan-kecintaan lainnya.

 

Ketegaran hati Asma’  diuji ketika musibah besar datang yaitu ketika suaminya tercinta terbunuh. Pada awalnya, walaupun Asma sangat sedih tapi merasa bangga karena suaminya telah mencapai cita-citanya. Namun, hal itu berubah menjadi kesedihan sangat mendalam ketika mengetahui bahwa suaminya tidak gugur dalam perang melainkan karena dikhianati oleh Ibnu Jarmuz.

 

Ketika anaknya, Abdullah bin Zubair datang meminta pendapat dari beliau tentang keadaannya yang sudah dikepung oleh tentera Bani Ummaiyyah, Asma memberi semangat kepada anaknya untuk terus berjuang. Asma’ berkata kepada anaknya,”Hiduplah secara mulia, berjihadlah kamu kepada Allah dan matilah secara terhormat”.

 

Lalu Abdullah ibn Zubair melancarkan serangan terakhir sehingga dia gugur sebagai syahid. Ia dibunuh oleh Al Hajjaj bin Yusuf, pemimpin Bani Umaiyah. Asma merasa bangga dengan kematian anaknya. Untuk menjatuhkan nyali Asma’, Hajjaj menggantungkan mayat Abdullah di tiang salib sebagai tanda penghinaan kepada Abdullah bin Zubair dan bersumpah tidak akan menurunkannya sebelum Asma memintanya. Namun Asma tidak juga melakukannya. Ia pun berdiri di bawah tiang tempat anaknya digantung lalu berkata,”Bukankah sampai masanya pahlawan yang berdiri megah ini turun dari kudanya?”

Mendengar perkataan Asma’, Hajjaj merasa malu kerena dengan menaikkan mayat Abdullah bin Zubair itu berarti menaikkan martabat Abdullah dan orang yang ramai lalu lalang pasti akan mengutuk akan kekejaman Hajjaj. Lantas Hajjaj menurunkan mayat Abdullah dan menyerahkannya kepada ibunya, Asma’ binti Abu Bakar.

 

Asma’ bin Abu Bakar meninggal dunia di Mekah pada usia seratus tahun. Selama hidupnya beliau meriwayatkan 56 Hadits Nabi, dan 26 di antaranya terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.Pada usianya yang begitu lanjut, tak ada satu pun giginya yang patah, dan otaknya masih sangat sehat dan berjalan sebagaimana mestinya. Ia merupakan orang Muhajirin yang terakhir meninggal dunia.

 

Sumber:

–       www.mykhilafah.com

–          ms.wikipedia.org

–          Wanita-wanita  Penghias Surga, tulisan Muhammad Quthb

–          alhidayah.ac.id

Wassalam,

Arief Zulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: