Benahi Sendiri, Sebelum Orang Lain Melakukannya

Catatan Kepala: ”Memperbaiki diri dengan kesadaran sendiri jauh lebih menyenangkan daripada melakukannya karena disuruh oleh orang lain.”

Apakah Anda bersedia dikritik? “Kenapa tidak?” Biasanya begitu kita menjawab pertanyaan seperti itu. Anehnya, kita tidak benar-benar nyaman ketika seseorang mengkritik kita. Ada saja perasaan kesal terhadap kritikan, atau orang yang melontarkan kritik itu. Hal itu menunjukkan bahwa kita tidak benar-benar terbuka terhadap kritikan dari orang lain. Jangankan dikritik, dikomentari dengan kalimat-kalimat yang tidak sesuai dengan keinginan saja kita sudah sering kesal. Padahal kita sudah mendeklarasikan diri sebagai pribadi yang siap dikritik. Anda sadar bahwa kritikan sangat penting untuk mengoreksi hal-hal yang kurang tepat dalam diri Anda. Tetapi, apakah Anda benar-benar siap dikritik tanpa merasa panas di kuping atau kesal didalam hati ketika mendengarnya?

Ketika pembantu rumah tangga kami berganti, kami pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Setiba kembali di rumah, saya mendapati meja kerja saya sudah sangat rapi dan bersih. Lazimnya, kita suka dengan kebersihan dan kerapian. Tetapi saat itu saya benar-benar tidak menyukainya. Pembantu baru kami ‘berinisiatif’ untuk membereskan ‘kekacauan’ yang terjadi diatas meja kerja itu. Sedangkan bagi saya, inisiatifnya telah menyebabkan ‘kekacauan’ susunan file dan dokumen-dokumen penting. Untuk beberapa saat, saya gamang harus memulai pekerjaan dari bagian yang mana. Salahkah pembantu itu? Tidak, karena menurut norma umum; permukaan meja harus bersih dan rapi. Pelan-pelan saya menyadari bahwa hidup kita, kira-kira seperti itu juga. Kebenaran pribadi kita, perlu disesuaikan dengan norma yang berlaku dilingkungan secara umum. Jika tidak, maka seseorang akan berupaya untuk ‘membereskan’ sesuatu yang tampak tidak selaras dengan norma umum itu.  Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menyelaraskan nilai-nilai pribadi dengan norma umum, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:

  1. Atasi salah faham dengan pengertian. Saya tahu meja saya berantakan. Tapi semua yang ada dimeja saya penting – bukan sampah.  Saya tidak berhasil menemukan beberapa diantaranya karena pembantu baru kami telah membuangnya ke tempat sampah. Dimata saya, catatan sekecil apapun penting karena didalamnya ada sekumpulan ide. Catatan penting dari pembicaraan telepon. Boarding-pass yang harus dilaporkan, atau rute ke tempat rapat yang harus saya hadiri. Dimata pembantu saya; kertas kecil yang ‘berserakan’ diatas meja adalah perusak kerapian. Jelas sekali jika ada perbedaan nilai disini. Jika saya menyalahkannya, sama artinya dengan menghardik balik orang-orang yang mengkritik dengan niat untuk membuat hidup saya lebih baik. Orang lain memiliki sudut pandangnya sendiri. Hal itu benar dari titik dimana dia melihatnya. Sedangkan saya, mempunyai alasan sendiri yang juga benar dari tempat saya berpijak. Perdebatan, persetruan, maupun pertikaian kita sering disebabkan oleh perbedaan sudut pandang ini. Dan hal ini hanya bisa diselesaikan dengan saling pengertian. Saya mengerti mengapa seseorang melakukan sesuatu. Dan orang itu mengerti alasan dibalik perilaku dan tindakan saya. Setelah terbangun saling pengertian itu; tidak ada lagi salah faham. Karena pengertian dapat mengatasi salah faham.
  2. Perbaiki dengan kesadaran sendiri. Saya selalu meyakini bahwa setiap helai kertas di meja kerja saya sangat penting. Tidak ada sampah. Jadi, tidak seorang pun boleh membuang apapun yang ada di meja saya. Sama dengan perilaku kita. Kita merasa semua yang kita lakukan itu baik dan berharga. Makanya, kita tidak ingin ada orang yang mengusiknya. Faktanya, ada saat-saat dimana saya membereskan sendiri meja kerja saya. Dan setiap kali saya melakukannya, selalu ada setumpuk kertas yang saya buang ke tempat sampah. Jadi, klaim saya tentang semua kertas itu penting tidak berlaku lagi. Hidup kita juga begitu; tidak semua tindakan, pemikiran dan perbuatan yang kita anggap bernilai itu benar-benar bernilai. Tapi, mengapa saya kesal ketika pembantu membereskannya namun senang hati ketika kertas-kertas itu saya buang sendiri? Tepat sekali. Karena ketika ‘membereskannya sendiri’ saya melakukannya dengan suka rela. Tidak ada berat hati jika kita melakukannya sendiri. Maka begitu pula dengan perilaku tidak terpuji kita. Setiap kali orang mengkritik, secara refleks kita mengambil sikap defensif. Setiap kali orang ‘membeberkan’ kelemahan atau keburukan-keburukan kita; maka kita membela diri. Bahkah sudah tertangkap tanganpun, kita masih bisa mencari alibi. Tetapi, coba ingat kembali ketika kesadaran itu datang dari dalam diri sendiri. Kita tidak berselera untuk membela diri. Kita tidak terarik untuk beradu argument di pengadilan. Kita menerima saja dengan sepenuh hati. Karena kita melakukannya dengan kesadaran sendiri.
  3. Selaraskan prinsip pribadi dengan norma umum. Setiap kali saya faham mengapa seseorang melakukan sesuatu, saya melihat alasan yang tepat dibalik tindakannya. Minimal, saya memakluminya. Begitu pula halnya dengan orang lain yang memahami alasan saya. Tetapi meski mengerti alasan mereka; ada kalanya kita tidak boleh membiarkannya melakukan itu. “Ini urusan pribadi saya, kamu tidak berhak ikut campur,” begitu seseorang menghardik saya. Benar, itu hak pribadi dia; terserah mau melakukan apa saja. Namun, jika perilaku pribadinya itu mencemarkan nama baik lingkungan atau mengganggu orang lain; maka kita tidak bisa memberinya tempat. Hal itu berlaku untuk siapa saja. Kita sendiri pun begitu. Selama menjadi bagian dari komunitas sosial di lingkungan tempat tinggal, maka kita harus bisa menyelaraskan prinsip pribadi dengan norma umum. Seseorang ngotot bahwa tindakannya adalah hak pribadi yang tidak boleh dicampuri. Masalahnya, ditengah malam yang sunyi ada sekelompok orang yang mendatangi rumah saya dan mengadukan perilakunya yang merugikan orang lain. Maka tidak ada perilaku pribadi yang mengganggu kepentingan orang lain yang boleh dibiarkan terus berlangsung. Mengapa? Karena setiap individu memiliki tanggungjawab sosialnya masing-masing. Tanggungjawab sosial tidak selalu berarti harus memberi sesuatu berupa materi untuk kegiatan sosial. Hal paling mendasarnya adalah; harus menghindari perilaku-perilaku pribadi yang bisa merusak tatanan dan kehidupan sosial. Maka penting bagi kita, untuk belajar menyelaraskan prinsip pribadi dengan norma umum.
  4. Tinggallah dalam lingkungan yang baik. Tetapi bukankah norma umum belum tentu mengandung kebenaran? Bergantung dimana kita tinggal. Jika Anda tinggal dalam lingkungan yang terdiri dari orang-orang yang selalu menjaga kehormatan, perilaku dan nilai-nilai kebaikan; bisa dipastikan jika norma umum yang berlaku mengandung kebenaran. Sebaliknya, jika kita tinggal di lingkungan yang buruk; maka norma umum yang berlaku disana kemungkinan besar ya buruk juga. Kita tahu bahwa lingkungan memiliki pengaruh yang sangat kuat kepada nilai pribadi kita. Makanya, orang-orang yang awalnya baik bisa berubah menjadi buruk setelah masuk ke lingkungan yang buruk. Hari ini, mungkin Anda punya prinsip bahwa; ‘mengambil meski hanya satu rupiah yang bukan hak Anda adalah perbuatan nista’. Besok, mungkin saja lingkungan Anda membisikkan bahwa; ‘mengambil sedikit mah tak apa karena hal itu sudah menjadi kebiasaan lumrah disini’. Jika kita ingin menjadi orang yang baik, sungguh beresiko jika memilih tinggal dalam lingkungan yang buruk. Maka jika kita mengetahui lingkungan kita sudah sangat buruk; jangan terus menerus tinggal disana dong. Kecuali jika Anda memiliki kemampuan untuk membentengi diri dari rembesan pengaruh norma umum yang buruk itu. Atau Anda memang mempunyai kekuatan untuk melakukan perubahan disana. Tetapi jika tidak; jauh lebih masuk akal jika kita cari saja tempat lain yang lebih baik. Perlahan-lahan bergeserlah; agar lebih mendekat kepada lingkungan yang baik. Yaitu lingkungan yang bisa memberi pengaruh baik kepada nilai pribadi kita.
  5. Mengacu pada kebenaran mutlak.  Fakta menunjukkan bahwa norma umum pun tidak memiliki kebenaran mutlak. Di lingkungan yang buruk, norma yang berlaku ya juga buruk. Di lingkungan yang baik, kebanyakan orang mempertahankan nilai-nilai yang baik. Bahkan, baik menurut satu komunitas tertentu belum tentu juga baik menurut komunitas lainnya. Oleh karenanya, kita mesti belajar untuk mengacu kepada satu titik acuan yang sama. Itulah pula sebabnya mengapa kita membutuhkan bimbingan yang sifatnya universal. Berlaku di lingkungan dan zaman manapun. Adakah hukum seperti itu bisa dibuat oleh manusia? Tidak. Karena manusia memiliki banyak keterbatasan yang mengungkung jangkauan logika dan nuraninya. Maka tidak ada hukum lain yang bisa dijadikan acuan universal itu selain hukum yang dibuat oleh Dzat yang menciptakan alam semesta. Sebagai satu-satunya yang mengetahui segala rahasia dan mekanisme yang berjalan di alam, Dia yang menciptakan itulah yang juga mengaturnya. Oleh sebab itu, kita perlu belajar untuk mengacu kepada kebenaran mutlak. Dengan mengacu kepada hukum yang satu dan dibuat oleh Yang Maha Satu itu, kita akan mempunyai satu ‘timbangan’ yang menentukan kualitas tindakan dan perilaku kita. Dengan begitu, tidak ada lagi penilaian yang dibumbui oleh kepentingan pribadi. Tidak pula yang dipengaruhi oleh intrik kelompok atau komunitas yang kita tinggali. Karena kebenaran yang bersumber kepada hukum Tuhan, adalah kebenaran mutlak hingga layak untuk kita jadikan sebagai titik tempat berpijak.

Kita boleh berdebat dengan sesama manusia tentang kebenaran nisbi yang sama-sama kita pertahankan. Boleh membayar pengacara paling mahal untuk memberikan pembelaan. Boleh melarikan diri ke tempat paling jauh untuk bersembunyi. Boleh juga berpura-pura sakit. Tetapi, apa bisa sih kita menghindar dari ikatan hukum yang dibuat oleh Tuhan? Tidak. Maka tidak ada pilihan lain selain mengikuti kebenaran yang sudah Tuhan gariskan melalui ajaran yang disebarkan oleh para Nabi suci yang diutusNya. Jika patuh kepada ajaran itu, kita tidak mungkin tersungkur ke lembah perilaku nista hewani sehingga diri kita akan tetap terjaga. Dan dengan begitu, kita tidak perlu menunggu orang lain yang membenahi diri kita. Karena kita, bisa membenahi diri sendiri, sebelum orang lain melakukannya. Yaitu membenahi diri, dengan bimbingan hukum dan aturan Ilahi.

Sumber: http://www.dadangadarusman.com

(http://wp.me/pXGQA-9q)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: