Anda Tak akan Pernah Jadi Pengusaha Jika Tak Pernah Mencoba

Meraup Untung dari Gelembung Harga Saham

Ellen May – detikfinance
Rabu, 27/02/2013 10:53 WIB
 
Pernah dengar istilah ‘Bubble’? Apa yang dimaksud dengan bubble atau gelembung perekonomian? Seperti yang pernah saya bahas sekilas di twitter @pakarsaham, bubble atau gelembung ekonomi adalah siklus ekonomi yang ditandai dengan ekspansi yang cepat diikuti oleh kontraksi.

Apa artinya? Bubble atau gelembung ekonomi seringkali ditandai dengan naiknya harga property, harga saham, dan pertumbuhan ekonomi yang cepat.

Bubble alias gelembung perekonomian nampak ketika terjadi lonjakan harga saham bahkan melebihi kondisi fundamental perusahaan. Gelembung perekonomian ini akan terus berlangsung, harga saham terus naik, hingga pada suatu saat diakhiri dengan ‘meletusnya’ gelembung itu.

Meletusnya gelembung perekonomian atau bubble ditunjukkan dengan turunnya harga saham secara tiba-tiba, seperti tahun 2008. Bubbles. They expand. They pop!

Gelembung ini tidak hanya terjadi pada harga saham, namun juga harga properti seperti kasus subprime mortgage 2008. Bubble juga terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Apa sebenarnya yang mendorong harga saham terus naik?

Indonesia sebagai negara berkembang yang semakin kaya, pendapatan per kapita meningkat, maka golongan menengah pun semakin kuat sehingga daya beli meningkat. Golongan menengah ini adalah mereka yang mampu memenuhi kebutuhan pokok, sekunder, mampu berlibur tiap tahun, mulai membeli mobil, membeli rumah dengan KPR, sehingga mendorong pertumbuhan sektor properti, sektor barang konsumsi dan sektor infrastruktur.

Selain itu, pembangunan juga semakin pesat di negara berkembang, baik pembangunan jalan atau infrastruktur dan juga gedung atau jembatan. Pembangunan infrastruktur mendorong sektor infrastruktur, konstruksi, dan properti juga terus melaju.

Bank-bank meminjamkan uang kepada mereka,dan aset-aset mereka digunakan sebagai agunan. Ekuitas dalam properti dan lain sebagainya digunakan sebagai jaminan atau leverage untuk mendapatkan modal lebih. Money makes money.

Bubble juga terdorong oleh capital yang masuk ke dalam pasar modal dan aset fund manager reksa dana yang semakin meningkat, dan juga dari dana investor asing. Sebagai seorang pelaku pasar, apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi bubble atau gelembung yang sedang terjadi?

Sebagian orang euforia terhadap harga saham yang terus naik. Sebagian lagi takut berpartisipasi. Sebaiknya bagaimana? Membeli saham saat bubble dimulai akan sangat menguntungkan untuk trader karena harganya terus naik. Namun, risiko berinvestasi selalu berbanding lurus dengan potensi keuntungan yang akan diraih. Maksudnya?

Potensi imbal hasil dari berinvestasi saham pada masa bubble memang besar, namun risiko juga besar jika tidak hati-hati. Cara terbaik untuk dapat memetik untung dari pasar saham dan terhindar dari resiko adalah dengan mengikuti tren.

Tentukan tren harga saham dengan menggunakan analisis teknikal, tahan hingga tren berakhir dan jual. Dengan menggunakan analisis teknikal, Anda dapat mengetahui apakah sebuah tren naik masih berpotensi untuk naik ataukah sudah jenuh.

Dengan demikian, Anda akan mudah mengenali tanda-tanda terjadinya pembalikan arah, dan terhindar dari crash. Tidak perlu takut akan crash di pasar saham. Cukup baca sinyal-sinyal pembalikan arah, dan kurangi posisi jika sinyal tersebut muncul.

Dengan menggunakan analisis teknikal, Anda dapat melakukan antisipasi sedini mungkin. Analisis teknikal tidak menjamin Anda untuk selalu untung, namun dapat membantu meminimalkan kerugian dan memaksimalkan profit.

Mengutip ucapan Ed Seykota, “Follow the trend until its end when it bend.” Waktu, kesabaran, dan kedisiplinan adalah teman terbaik bagi trader dan investor saham.

Salam profit, Ellen May

*) Ellen May. Trader, investor saham, pendiri Ellen May Institute, penulis Smart Traders Not Gamblers, @pakarsaham.
http://finance.detik.com/read/2013/02/27/105322/2180844/479/meraup-untung-dari-gelembung-harga-saham?f990101mainnews
 
 
Anda Tak akan Pernah Jadi Pengusaha Jika Tak Pernah Mencoba!

Eko June – detikfinance
Rabu, 27/02/2013 10:35 WIB
 
Banyak orang yang ingin memulai usaha selalu mempunyai pertanyaan: bagaimana memulai suatu bisnis, apa yang harus dipersiapkan, bagaimana dengan risikonya dan lain-lain.

Dan apakah memulai usaha harus dalam kondisi yang ideal? Ingatlah, kita tidak akan pernah bisa mencapai kondisi ideal karena menjadi sifat manusia yang akan selalu merasa tidak cukup. Dan pada akhirnya kita tidak akan pernah menjalankan apa yang menjadi keinginan jika kita masih juga mengharapkan untuk mendapatkan kondisi yang ideal.

Kondisi ideal seperti apa ?

Saya ingin berbisnis, saya sudah punya ide yang cemerlang untuk bisnis saya ini, saya akan jual ini dan itu. Tapi saya harus memiliki modal sebesar Rp 50 juta, kemudian mencari lokasi yang sangat strategis, lalu mendapatkan karyawan yang jujur, amanah dan produktif.

Saya juga harus belajar bisnis sebanyak-banyaknya terlebih dahulu karena saya takut gagal dan takut menghadapi risiko.

Yakinlah kita tidak akan bisa mempunyai bisnis apapun, jika menunggu kondisi ideal seperti diatas. Jika pun pada akhirnya mempunyai bisnis maka memulainya dalam waktu yang sangat lama dan bakal kehilangan momentum-momentum yang bagus.

Di awal usaha, modal sekian puluh juta akan sulit didapat, lokasi yang strategis adalah sangat mahal, mendapatkan karyawan yang sesuai keinginan laksana mimpi. Dan impian memang akan menjadi mimpi belaka karena kita tidak menjalankannya. Knowledge is just knowledge if we never apply it.

Sekarang bukan jamannya lagi ‘knowledge is power’ tapi ‘applied knowledge is power’. Gagal dan risiko adalah bumbu kesuksesan yang tertunda.

Semua butuh proses. Semua butuh belajar. Tapi harus 1B3P : Belajar lalu praktik, praktik, praktek atau 1B3A: Belajar lalu action, action, action.
Mari kita belajar dengan mempraktekkannya. Apa kondisi ideal anda?
 
http://finance.detik.com/read/2013/02/27/103510/2180802/1340/anda-tak-akan-pernah-jadi-pengusaha-jika-tak-pernah-mencoba?f990101mainnews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: