Kisas Susi Pudiastuti, smart worker into entrepreneurship

Kalau Anda terbang dengan pesawat Susi Air, pernahkah terlintas di pikiran asal mulanya perusahaan penerbangan ini? Mulanya Susi Pudjiastuti berdagang ikan basah di Pangandaran. Lantas Susi sadar pentingnya cold storage, lalu dibikinnya cold storage. Lantas Susi sadar, ikan berharga tinggi kalau dijual hidup dikirim ke Tokyo dan Singapura. Lantas beli pesawat. Jadi pesawat Susi Pudjiastuti mulanya khusus mengangkut ikan hidup.
 
Dari armada pesawat khusus pengankut ikan, berkembang menjadi pesawat penumpang dan barang yang menerbangi rute-rute daerah sampai Papua, itulah Susi Air.  Khusus untuk Papua yang banyak landasan kasarnya yang medannya banyak gunung terjal, Susi Air menyediakan pesawat yang cocok, yaitu Pilatus Porter.
 
Dananya dari mana? Ya dari kredit bank. Kok bisa? Buktinya Susi Pudiastuti bisa.
 
Meskipun hanya lulusan SMA, Susi Pudjiastuti seorang tokoh enterprise piawai. Dan bahasa Inggrisnya OK punya. Kebetulan suaminya penerbang asing (Swiss?).
 
Bagaimana impian + ulet bekerja = Keberhasilan, simak tulisan Rhenald Kasali dibawah ini.
 
 
Susi Air Berawal dari Ikan Basah
OLEH: RHENALD KASALI
(Guru Besar FE-UI)
 
JEFFRI Van Novis bukan orang Belanda, melainkan asli Minang. Di Pasar Aur Bukittinggi, Jeffri berjualan celana dalam perempuan, mereknya Bonita. Tetapi, jangan salah. Manusia tak bisa dinilai dari apa yang dikerjakan hari ini, tapi apa yang dipikirkannya. Uang bokek, dagangan kecil, lokasi terpencil bukan ukuran kebesaran. Apa yang dipikirkan Jeffri adalah mendirikan perusahaan aviasi: Bonita Air.

Sudah jadi? Belumlah. Jeffri baru hijrah ke Jakarta dua tahun ini, membuka outlet tiket pesawat terbang di pasar Tanah Abang. Tetapi, saat saya tanya, dia selalu menjawab: masih menjadi passion saya. Jeffri sedang mengumpulkan daya, tenaga, dan modal untuk mewujudkan impiannya. Dia masih jungkir balik, berbeda dari rekan-rekannya yang langsung kaya dengan usaha kuliner yang mudah dibangun.

Jumat lalu saya mengunjungi kantor Susi Air di Pangandaran, menikmati terbang bersama pesawat-pesawat carter milik ibu Susi Pudjiastuti. Dari Bandara Halim ke Pangandaran, lalu terbang memakai pesawat Caravan mendarat di lapangan rumput, beach strip, persis di tepi pantai.

Apa bedanya Susi dengan Jeffri? Yang jelas usianya. Yang satu dua kali dari yang lain. Persamaannya? Keduanya sama-sama memulai dari pasar. Susi dulu adalah bakul ikan yang membeli ikan-ikan basah dari nelayan di pasar Cilacap, Jateng. Dengan menyewa truk dia berhenti di Cirebon, lalu membawa ikan basah ke Jakarta. Hidupnya keras, tetapi cerdas.

BERSUSAH-SUSAH DULU

Di Banyuwangi, Jatim, juga ada seorang ibu, bernama Liza Lundin, asli Banyuwangi. Juga pengusaha. Hanya bidangnya kapal-kapal laut tempur berteknologi tinggi berbahan komposit. Susi dan Liza sama-sama hebat. Susi menikah dengan seorang captain, eks pilot PTDI, berkebangsaan Swiss, sedangkan Liza menikah dengan pria Swedia.

Semua yang besar berawal dari yang kecil-kecil, dari tepi-tepi pasar atau medan ”berkeringat” dengan spirit kewirausahaan yang tebal dan berani menjadi besar. Ya, besar itu berkaitan dengan teknologi, manajemen, tim ahli, pengetahuan, dan tentu saja modal. Bedanya dengan para pengeluh, mereka tak pernah marah-marah saat kekurangan modal atau ditolak bank. Mereka selalu memperbaiki ”kepercayaan” dengan kerja keras. Yang besar adalah tekad dan pikiran mereka, bukan uang.

Susi Air memulai dari ikan basah. Dari situ dia punya mental menerobos yang tak kalah dengan kaum lelaki. Dia menjadi pandai mengolah ikan, bahkan membuka restoran yang bersih dan enak di Pangandaran. Dia mengerti betul, ikan bernilai tambah tinggi bukanlah ikan asin atau ikan mati, melainkan ikan hidup. Ikan hidup hanya bisa diperdagangkan kalau ada pesawat dari kantong-kantong nelayan ke pasar tujuan. Itulah awalnya dia menaruh perhatian pada pesawat. Bukan pesawat penumpang, tetapi yang bisa mengangkut ikan hidup.

Pepatah mengatakan, ”kecerdasan dari pengetahuan, baru berupa potensi belaka. Dia baru menjadi kekuatan bila keduanya bertemu dengan pintunya”. Susi membuka pintu restoran karena senang memasak. Di situ dia bertemu orang yang kelak menjadi mitra usahanya. Dia mendatangi bank, mengetuk pintu mereka selama empat tahun. Namun, begitu kredit cair, niatnya mengangkut ikan dari Aceh berubah saat Aceh dilanda gelombang tsunami. Bersama suami, dia menggunakan pesawat yang baru didapat kredit perbankannya itu untuk kegiatan humanitarian di Aceh.

Di luar dugaan, saat misinya selesai di Aceh, LSM-LSM internasional justru meminta agar pesawatnya bisa dicarter. Sebuah pintu dibuka, pintu-pintu lain pun terbuka. Darihumanitarian effort dan dari angkutan ikan menjadi armada carter yang bagasinya bisa diisi lobster hidup.

Dari satu pesawat, menjadi dua, kini menjadi 45, justru di saat Adam Air bangkrut, Batavia Air dipailitkan, atau bahkan saat SQ menghentikan direct flight (nonstop services)Singapore-New York yang merugi (Oktober 2012). Belajar dari Susi, Liza, dan Jeffri, saya hanya ingin mengatakan, usaha itu ada tahapnya, dan setiap pertemuan selalu memberikan input untuk digeluti. Anda tak akan pernah tahu ke mana muara ini akan berakhir, tetapi tahu semua langkah pasti ada muaranya.

Entrepreneur muda harus bisa lebih gigih membanting diri di bawah. Jangan cepat-cepat membeli kemewahan, padahal usaha masih sekadar gerobak di kaki lima yang di-franchise-kan. Lebih beranilah berevolusi menjadi besar, berani memulai usaha yang banyak menyita pikiran dan pengetahuan, dan berani membuka pintu. Itu yang saya pelajari dari Jeffri, Susi, dan Liza.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: