Tips Melamar Pekerjaan & Interview

Rahasia Resume yang “Menjual”

Agar sukses mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, resume Anda harus mampu menarik perhatian pencari kerja yang prospektif dan cukup “menjual”. Resume adalah semacam kesan pertama yang ingin Anda ciptakan kepada calon atasan Anda. Berikut adalah tips yang bisa dilakukan untuk membuat Anda berada dalam antrean terdepan penerima undangan wawancara.

Cantumkan yang terpenting pada bagian teratas. Pastikan Anda tahu tempat yang dituju atau posisi apa yang ingin Anda lamar. Jika Anda baru saja lulus kuliah, belum ada pengalaman kerja, dan pendidikan adalah yang paling bisa Anda “jual”, maka cantumkan pendidikan Anda di bagian paling atas. Jika Anda sudah pernah bekerja sebelumnya dan akan melamar ke bidang yang serupa, cantumkan pengalaman pekerjaan terlebih dahulu, baru pendidikan. Akhir-akhir ini pengalaman bekerja lebih sering menjadi poin utama. Coba tempatkan diri Anda sebagai pencari kerja dan apa yang ingin Anda cari dalam diri calon karyawan Anda. Keahlian apa yang Anda miliki dan akan berguna untuk perusahaan tersebut? Pengalaman yang membuat Anda stand out dari pelamar lainnya? Cantumkan hal-hal semacam ini di lokasi atas. Jika Anda ingin mencantumkan latar belakang pendidikan, buatlah sesingkat dan sepadat mungkin. coba buat resume dengan urutan pengalaman kerja dalam daftar yang ringkas, lalu jelaskan detail dan atribut-atribut kunci, pengalaman dan keahlian yang sesuai dengan posisi kerja yang dituju, lalu akhiri dengan deatil yang mendukung, seperti pendidikan dan minat Anda.

Selektif dalam menampilkan informasi. Resume adalah alat marketing Anda. Pastikan Anda hanya mencantumkan informasi-informasi terpilih yang positif. Tak perlu mencantumkan segala hal yang pernah Anda lakukan seumur hidup. Resume “menjual” keahlian dan kemampuan Anda kepada calon pemberi kerja potensial. Jika Anda pernah bekerja sebelumnya, calon pemberi kerja pastinya ingin tahu alasan Anda meninggalkan pekerjaan terdahulu. Akan lebih baik jika bisa mencantumkan pula surat rekomendasi dari pekerjaan sebelumnya, untuk memastikan bahwa Anda keluar baik-baik.

Eksplorasi pilihan lain dan buat beragam bentuk resume. Cari tahu lebih dalam kemampuan dan keahlian Anda. Jika memiliki ketertarikan di berbagai macam bidang, cobalah. Buka pikiran Anda untuk mencoba beragam karir. Ketika akan mencoba bidang-bidang pekerjaan yang berbeda, ciptakan beberapa tipe resume yang berbeda yang sekiranya cocok dengan tempat yang akan dilamar. Sesuaikan desain, susunan, dan isi resume Anda. Bidang yang berbeda membutuhkan informasi keahlian dan kemampuan yang berbeda, Anda bisa sesuaikan hal ini untuk lebih membuat Anda terlihat yang terbaik untuk posisi tersebut. Pastikan pula desain resume Anda cukup formal, mudah dibaca, dan tidak terlalu berlebihan.

sumber: kompas.com, http://ardyprasetyo.wordpress.com/2009/03/17/rahasia-resume-yang-menjual/

Mengatasi Panik Saat Interview

Akhirnya Anda menerima panggilan untuk wawancara di sebuah perusahaan yang sudah lama Anda impikan. Awalnya Anda merasa excited, namun lama-lama berubah menjadi tegang dan panik. Baru memasuki gedungnya yang megah saja Anda sudah minder. Apalagi ketika bertemu dengan karyawan-karyawannya yang terlihat begitu sophisticated. Saat memasuki ruang wawancara, Anda ternyata dihadang lima pimpinan perusahaan. Wuaah… Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana mengatasi ketegangan ini?

Saya bertemu dengan calon karyawan lain yang penampilannya lebih elegan, dan terkesan lebih pintar.

Banyak orang yang menciut saat melihat penampilan calon lain. Biasanya Anda akan terpengaruh, bahwa ada calon lain yang lebih qualified, dan Anda tidak termasuk di dalamnya. Jangan terpengaruh oleh kekuatan nonverbal. Seringkali saat menghadapi pewawancara, mereka pun mendadak gemetar, bersalaman dengan lemah, dan menatap dengan pandangan kosong. Saat Anda memutuskan mendatangi kantor yang akan merekrut Anda, yakinkan bahwa pekerjaan ini adalah yang Anda inginkan, dan Anda memang memenuhi kriteria yang ditentukan.

Saya merasa tegang, dan pewawancara mengetahuinya.

Ini hal yang biasa, dan sesuatu yang memang diharapkan pewawancara. Pewawancara ingin tahu bagaimana Anda mengatasi kegugupan Anda. Asalkan Anda tidak kelewat nervous sampai mengacaukan wawancara Anda sendiri. Bila Anda punya waktu di saat lain, berlatihlah untuk melakukan wawancara. Lamar pekerjaan hanya untuk mengetahui situasi wawancaranya. Rasakan ketakutan yang Anda alami, dan bagaimana Anda mengatasinya. Lakukan evaluasi apakah ada kesalahan yang Anda lakukan atau katakan. Makin banyak interview yang Anda hadiri, semakin Anda terlatih untuk menghadapi pewawancara. Jangan biarkan lagi mereka membuat Anda takut.

Saya tahu akan diwawancara pimpinan perusahaan, dan khawatir tidak mampu menjawabnya.

Satu-satunya cara untuk mengatasi hal ini adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai perusahaan yang akan merekrut Anda. Cari tahu dari rekan-rekan lain yang mungkin mengetahui kinerja perusahaan tersebut. Sebaliknya, tanyalah sebanyak-banyaknya saat Anda diberi kesempatan untuk bertanya.

Saya sudah mempersiapkan diri, namun saya tetap saja nervous dan tak bisa berpikir saat ditanya sesuatu.

Sering terjadi kita mendadak blank saat menerima pertanyaan tak terduga. Hal ini terjadi pada banyak orang. Anda tak harus langsung menjawab bila hal ini terjadi. Katakan pada pewawancara dengan jujur, Anda butuh waktu untuk memikirkan jawabannya. Cara lain adalah dengan meminta pewawancara untuk mengulangi pertanyaannya. Atau, Andalah yang mengulang pertanyaan tersebut untuk pewawancara. Siapa tahu memang Anda salah menangkap pertanyaannya. Sekaligus, tentunya, untuk mengulur waktu. Hal ini justru menunjukkan Anda cukup percaya diri, yaitu dengan meminta arah sebuah pertanyaan.

Saat diwawancara, saya menyadari bahwa pengetahuan saya memang terbatas. Apa yang harus saya katakan?

Jawablah dengan jujur dimana kemampuan Anda. Jangan “menjual” diri dengan menyampaikan hal-hal yang sebenarnya tidak Anda kuasai. Saat mulai bekerja nanti, Anda akan menyadari bahwa pekerjaan tersebut sulit Anda lakukan. Anda tak akan berkembang, dan selain itu perusahaan akan merasa tertipu dengan Anda.

Jawaban saya tidak memuaskan pewawancara.

Tariklah nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Jika sebuah jawaban yang bagus tidak memuaskan pewawancara, berikan jawaban lain sebaik yang Anda mampu. Kadang-kadang dengan mulai berbicara dapat membantu Anda kembali ke pokok permasalahan. Yang terparah memang jika Anda sama sekali tak mampu menjawab pertanyaan. Dalam hal ini, Anda sebaiknya bersikap jujur. Tanyakan apakah Anda dapat mengulang pertanyaan tadi di akhir interview. Hal ini menunjukkan inisiatif dan kepercayaan diri Anda.

sumber: kompas.com

Bahasa Tubuh Saat Wawancara Kerja

Membaca dan memahami bahasa tubuh sangat penting untuk membuat Anda lolos wawancara kerja. Kemampuan komunikasi non-verbal memberikan nilai tambah untuk Anda sekaligus membantu untuk memperkirakan apa yang dipikirkan si pewawancara.

1. Jabat Tangan
Jabatan tangan memperlihatkan siapa diri kita. Hati-hati dengan cara Anda berjabat tangan. Kenal istilah dead fish, bone crusher, atau wet fish? Itu adalah istilah-istilah jabat tangan yang tak bagus. Dead fish adalah tipe jabat tangan yang “malas”, yaitu memberikan tangan saja, tanpa digenggam, seperti ikan mati. Sementara bone crusher, biasanya datang dari arah atas, lalu menggenggam sangat kencang seperti mau meremukkan tulang. Meskipun niatnya menunjukkan tipe orang yang tegas, namun jabat tangan ini menyakitkan dan justru menunjukkan tipe agresif. Tipe wet fish menunjukkan tipe orang yang memiliki masalah dengan kepercayaan diri.

Tiga langkah jabat tangan yang baik:
* Pastikan tangan dalam keadaan bersih, kering, dan tidak sedang memegang benda lain.
* Ketika menggenggam tangan lawan, berikan kehangatan namun pastikan ada ruang udara.
* Jabat tangan dengan profesional, sopan, genggaman kuat, dan senyum hangat.

2. Tatapan
Ketika Anda bertemu dengan si pewawancara, tatap matanya dan berpikirlah, “Wah, senang rasanya bisa bertemu dengan Anda!” Hal ini akan membantu Anda tersenyum dari dalam hati, dan ia akan mendapati sinyal tersebut dengan mood positif. Ketika kita bertemu dengan orang yang kita senangi secara otomatis pupil mata akan membesar, ini merupakan fenomena yang secara insting ditangkap manusia lain.

Selama wawancara kerja, pastikan kontak mata Anda berada dalam seputaran segitiga terbalik wajah si pewawancara. Yakni di antara titik luar alis kiri, ke hidung bagian bawah, dan titik luar alis kanan. Menatap bibir seseorang dianggap pelanggaran seksual, sementara menatap dahi seseorang dianggap merendahkan.

3. Postur Tubuh
Upayakan untuk duduk lurus, agar kepercayaan diri muncul dari sana. Jika Anda merasa rendah diri dan jenuh, coba perhatikan cara Anda duduk dan berdiri. Duduk tidak rapi atau berdiri sambil bersender bisa menekan dada dan mengurangi asupan udara ke paru-paru, yang menyebabkan kegugupan dan ketidaknyamanan.

4. Posisi Kepala
Untuk meningkatkan rasa percaya diri selama wawancara, posisikan kepala Anda tegak secara horizontal dan vertikal. Ini memberikan sinyal bahwa Anda serius dalam menggapai tujuan. Namun ketika dalam percakapan, untuk terlihat lebih bersahabat, miringkan sedikit kepala Anda untuk menunjukkan simpati.

5. Tangan dan Lengan
Tangan dan lengan memberi penilaian akan seberapa “menerimanya” kita. Jadi, upayakan tangan Anda berada di samping tubuh. Ini menunjukkan bahwa Anda bersikap terbuka dan siap menerima apapun yang datang kepada Anda.

Orang pendiam cenderung melipat dan menjauhkan lengan mereka dari badan, sementara orang yang supel cenderung menggambarkan maksud dengan gerakan tangan sambil berbicara. Upayakan gerakan tangan tak jauh dari badan Anda, supaya tak terlihat berlebihan. Jangan melipat tangan di depan dada selama wawancara, karena Anda akan terlihat defensif.

Dua arti gerakan tangan:
* Telapak tangan menghadap ke luar dan ke atas berarti orangnya terbuka dan bersahabat.
* Telapak tangan menghadap ke bawah berarti tipe orang yang dominan dan kemungkinan agresif.

6. Tanpa disadari, kaki cenderung bergerak di luar batas normal ketika kita gugup, stres, atau sedang kebingungan. Mengatasinya? Upayakan kaki kita setenang mungkin selama wawancara. Jangan biarkan kaki Anda terlipat, karena seakan-akan hal itu menciptakan batasan antara Anda dan si pewawancara.

sumber: kompas.com, http://ardyprasetyo.wordpress.com/2009/03/17/bahasa-tubuh-saat-wawancara-kerja/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: