Menjamin suplai susu lewat koperasi

PROFIL NOVIYANTO

Menjamin suplai susu lewat koperasi

Oleh Noor Muhammad Falih – Selasa, 30 April 2013 | 15:09 WIB

JAKARTA. Ide bisnis bisa datang dari mana saja, termasuk dari
lingkungan sekitar. Hal ini pula yang terjadi pada Noviyanto, produsen
keju lokal asal Boyolali. Ia terinspirasi mengolah susu hasil ternak
sapi perah warga Boyolali, karena potensi yang melimpah tidak
dibarengi pemanfaatan yang maksimal. Tak jarang, produksi susu
terbuang, karena kelebihan produksi.

Lantaran biaya membangun pabrik keju tidak sedikit, pria yang akrab
disapa Novi ini pun mencari tambahan modal dari teman-temannya. Dengan
sokongan modal dari temannya, lulusan Arsitektur Universitas
Muhammadiyah Solo ini merintis Pabrik Keju Indrakila pada 2009.

Pabrik yang berlokasi di Dukuh Karangjati, Karanggeneng, Boyolali,
Jawa Tengah ini mampu memproduksi setidaknya 50 kilogram (kg) keju per
hari. Ada tiga jenis keju yang diproduksi dan dipasarkan secara ritel
ke supermarket, yaitu mozarela, keju keraf, dan keju feta. Produk ini
sudah mendapat izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Selain itu, Novi juga memproduksi beberapa jenis keju yang belum
mendapat izin BPOM. “Yang belum dapat izin tidak boleh dijual untuk
ritel. Jadi murni untuk industri. Itu legal,” tuturnya.

Tiap hari, pria kelahiran 33 tahun silam ini, memasok bahan baku susu
segar dari Koperasi Serba Usaha (KSU) di Boyolali. KSU ini
beranggotakan sekitar 600 peternak sapi perah Boyolali.

Bapak dua anak ini berharap, perlahan apa yang dilakukannya bisa
memajukan kesejahteraan para peternak di sana. “Sekarang, yang saya
lakukan masih kecil dampaknya untuk Boyolali. Kota ini menghasilkan
110 ton susu tiap hari. Sedangkan saya baru manfaatkan 0,5 ton per
hari,” ungkapnya.

Kini, keju buatan Novi sudah dipasarkan hingga ke Bali, Semarang,
Yogyakarta dan Solo. Selain dijual ritel, kebanyakan pembeli berasal
dari pemilik restoran atau usaha yang membutuhkan keju sebagai
pelengkap. Harganya berkisar Rp 85.000-Rp 135.000 per kg, tergantung
jenis dan jumlah pembelian.

Dari bisnis keju lokal ini, Novi bisa mencetak omzet rata-rata Rp 60
juta sebulan. “Tahun depan, saya targetkan bisa mencapai ratusan juta
sebulan,” ujarnya optimis.

Pencapaian omzet terus menanjak, tak terlepas dari target konsumen
yang dibidik, yakni skala industri dan ekspatriat. Memang, pembeli
ritel pun mayoritas dari kalangan ekspatriat. “Justru mereka yang
menyukai keju lokal, karena rasanya lebih segar. Sedangkan, orang kita
malah lebih suka keju impor,” tutur Novi.

Ia menyimpan harap, suatu saat nanti, keju lokal bisa lebih diterima
masyarakat Indonesia. Jika itu terjadi, Novi yakin industri keju lokal
akan mudah berkembang.

Kerja kerasnya sejauh ini telah membawanya terpilih menjadi salah satu
penerima anugerah Satu Indonesia Awards 2012 yang digagas Astra
International.

Pabrik keju Indrakila yang dirintis Noviyanto di Boyolali mulai
menunjukkan hasil. Meski belum maksimal, setidaknya bisa menampung
sebagian susu sapi perah warga yang kerap terbuang.

Dia harus berjibaku saat merintis usaha keju. Pria lulusan arsitektur
dari Universitas Muhammadiyah Solo ini butuh tiga tahun hingga kejunya
benar-benar bisa komersial dan mendapat lisensi Badan Pengawas Obat
dan Makanan (BPOM).

Sejatinya, tekad kuat mendirikan pabrik keju juga dilatarbelakangi
keterlibatan Noviyanto sebelumnya di Lembaga Donor Pemerintah Jerman
bernama Deutscher Entwicklungsdient (DED). Lembaga ini masuk Boyolali
untuk pelatihan bagi peternak soal pemanfaatan susu.

Noviyanto menjadi asisten seorang ahli produksi olahan susu dari DED
yang bernama Benjamin Siegl. “Lantaran terus mengikuti kegiatan
Benjamin, saya banyak belajar cara mengolah susu menjadi keju,”
kisahnya.

Selepas tugas DED pada 2009, Noviyanto bertekad merintis pabrik susu
di Boyolali. Dengan tambahan modal dari 19 rekannya, ia mendirikan
pabrik keju Indrakila. Ketika itu, modal yang terkumpul Rp 500 juta.

Dari 20 investor pendiri pabrik keju Indrakila, Noviyanto pemegang
modal terbesar. Maka, pembagian pendapatan dari pabrik keju pun
menggunakan sistem bagi hasil antar investor.

Asal tahu saja, ia bersama 19 rekannya tergabung dalam Forum for
Economic Development and Employment Promotion (Fedep) Boyolali yang
aktif mengembangkan potensi pertanian dan industri di Boyolali. Fedep
telah mendirikan Koperasi Simpan Usaha (KSU) Boyolali dan
beranggotakan 25 peternak dari Desa Karangjati, Boyolali.

Lewat koperasi, Noviyanto saban hari mendapat suplai susu segar. Lewat
koperasi pula, ia berupaya menekan fluktuasi harga susu segar hasil
para peternak. “Sebelum ada KSU, harga susu bergantung pabrik,”
tuturnya.

Selama ini, Noviyanto membeli susu segar dari peternak Rp 4.000 per
liter. Ia mengklaim, harga beli ini di atas harga pabrik, yakni
rata-rata Rp 3.000 per liter. Tiap hari, 500 liter susu dipasok ke
pabrik keju Indrakila.

Namun, belakangan bapak dua anak ini dihadapkan pada persoalan baru.
Susu berkualitas baik jarang didapat. Soalnya, para peternak sapi
meminta harga beli tinggi. “Kami kesulitan. Di saat bersamaan, pabrik
susu berani membeli dengan harga lebih tinggi,” bebernya.

Noviyanto bilang, kenaikan harga ini sebenarnya bukan hanya
menyulitkan dirinya, tetapi juga merepotkan peternak. Sebab, pabrik
susu tidak wajib membeli susu dari peternak karena bisa meraih suplai
dari berbagai tempat. “Saat tidak butuh, pabrik tidak beli, jika
produksi melimpah, harga pun jatuh,” katanya.

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/menjamin-suplai-bahan-baku-keju-lewat-koperasi-2/2013/04/30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: