Artikel # 21: BAGAIMANA CARA MENENTUKAN TARGET?

Melanjutkan artikel dua minggu yang lalu, setelah mengetahui dimana posisi kita sekarang saat ini, dengan hasil pencapaian dan analisa SWOT, barulah kita dapat menentukan sasaran yang ingin dituju. Saat akhir tahun seperti sekarang inilah saat paling tepat untuk menentukan target tahun depan.
Bagi insan pemasaran ataupun pribadi yang sudah memiliki usaha, maka dapat melakukan beberapa hal seperti di bawah ini.
 
Sasaran / target dapat berupa:
·           Sasaran Penjualan dan sejenisnya
–         Sasaran penjualan dalam jumlah barang dan rupiah
–         Sasaran % distribusi dari masing-masing produk ke outlet
–         Sasaran promosi
–         Sasaran merchandising / pemajangan
 
·           Sasaran Pengembangan Area:
–         Sasaran jumlah outlet / kios / tempat penjualan yang baru
–         Sasaran wilayah kerja baru
–         Sasaran jenis outlet / kios / tempat penjualan yang baru
 
·           Sasaran Pengembangan Anak Buah:
–         Sasaran pelatihan: Pengetahuan produk, Selling Skills (=keterampilan menjual), Attitude (=sikap) karyawan di tempat kerja, Area knowledge (=pengetahuan wilayah kerja) bagi salesman
–         Sasaran pelaksanaan coaching (= bimbingan)
–         Sasaran pelaksanaan role-play (= simulasi penjualan)
 
Bagi yang belum memiliki usaha sendiri, setelah mengetahui posisi sekarang ini dan telah melakukan analisa SWOT diri sendiri maka harus menentukan ke arah mana harus pergi atau menentukan target yang akan dicapai. Meski penuh semangat akan mencapai target, setiap calon entrepreneur maupun karyawan ataupun insan yang telah mempunyai usaha sendiri harus menggunakan metode SMART jika akan menentukan targetnya. SMART merupakan ringkasan dalam bahasa Inggeris yang harus dipenuhi bagi setiap orang yang akan menentukan targetnya. Tanpa mengindahkan metode ini, target menjadi sesuatu yang sangat jauh di awan atau sebaliknya menjadi sangat tak berarti karena sangat rendah dan bahkan telah diraih setiap saat.
 
S        Specific                  = spesifik
M       Measurable             = dapat diukur
A       Attainable              = dapat diraih
R       Realistic                 = realistic / nyata
T        Time bounded         = dibatasi oleh waktu
 
S
Suatu target harus dapat disebutkan secara spesifik dan bukan hanya mengambang saja.
Contoh target yang tidak spesifik: Saya mau menjadi orang kaya.
Karena kaya bukan sesuatu yang spesifik, tidak memiliki ukuran yang pasti. Sebab ukuran kaya bagi karyawan sangat berbeda dengan ukuran yang dipakai oleh seorang direktur BUMN/Bank.
 
Contoh target yang spesifik: Saya ingin memiliki deposito di bank.
Deposito adalah spesifik, karena menunjukkan suatu simpanan uang sejumlah tertentu di suatu bank.
 
M
Target harus dapat diukur dengan pasti karena ada alat untuk mengukurnya.
Contoh target yang tidak dapat diukur: 
Saya mau menjadi orang kaya.
Gue harus nabung emas batangan
Aku harus punya gedung yang tinggi.
Ketiga contoh target di atas tidak ada ukurannya. Apakah jika sudah memiliki sebuah mobil sedan dapat disebut orang kaya? Berapa banyak emas batangan yang harus ditabung, cukupkah sebatang dengan seberat 5 gram? Gedung dengan 3 lantai sudah dianggap tinggi bagi gelandangan, namun kenyataannya masih banyak gedung lain yang berdiri dengan jumlah lantai yang jauh lebih banyak.
 
Contoh target yang dapat diukur: Saya ingin memiliki deposito sebanyak
sepuluh milyar rupiah.
 
Deposito dalam bentuk uang sebanyak sepuluh milyar rupiah adalah suatu jumlah yang dapat diukur dengan ukuran yang berlaku di masyarakat luas. Dengan demikian contoh target di atas ini adalah spesifik sekaligus dapat diukur dengan pasti.
 
A
Target harus dapat benar-benar diraih karena dapat dibuktikan dengan cara mendapatkannya atau menghitungnya / menggapainya.
Contoh target yang tidak dapat diraih: Jika pencapaian penjualan setiap bulan selama 2 tahun berkisar Rp 1 juta, kemudian menetapkan target setiap bulan naik menjadi Rp 3 juta; maka target yang baru itu berarti tidak akan dapat diraih, selama semuanya tidak ada perubahan yang sangat berarti.
 
Contoh target yang dapat diraih (attainable): Jika pencapaian penjualan setiap bulan selama 2 tahun berkisar Rp 1 juta, kemudian menetapkan target setiap bulan naik menjadi Rp 1.200.000,- alias 20% dari rata-rata; maka target yang baru itu kemungkinan besar dapat diraih dan memerlukan suatu kerja keras dan cerdas.
 
R
Target harus yang realistik dan tidak hanya dalam angan-angan saja dan karena diketahui cara menggapainya atau cara menghitungnya.
Contoh target yang tidak realistik: Jika kita adalah seorang warga negara yang biasa saja di lingkungannya – tidak dikenal sebagai orang yang berharta banyak- dan bukan anggota partai maupun selebritis populer namun mentargetkan menjadi walikota di kota kelahiran.
 
Contoh target yang realistik: Jika kita adalah seorang warga negara yang biasa saja di lingkungannya dan dikenal sebagai orang yang suka menolong tetangga, maka mentargetkan diri menjadi ketua RT adalah suatu hal yang realistik.
 
T
Untuk mencapai target harus dibatasi dengan waktu yang tertentu, tidak boleh mencapai target dalam waktu seumur hidup.
Contoh target yang tidak dibatasi oleh waktu tertentu:
Saya mau menjadi orang kaya!
Target ini masih menyisakan pertanyaan: ”Kapan menjadi orang kaya? Bulan apa dan tahun berapa? ”
 
Contoh target yang dibatasi oleh waktu tertentu:
Saya harus mempunyai 1 apotek dan 1 minimarket dalam waktu 5 tahun dari sekarang.
 
Saya harus dapat membeli Toyota Kijang Innova produksi tahun 2015 sebelum bulan Juli tahun 2016.
 
Sebaik-baik target atau sasaran atau disebut goal adalah yang dibuat dengan mengacu metode SMART, namun akan tetap lebih baik lagi jika dilengkapi dengan satu huruf lagi yaitu C dari singkatan Challenge.
 
C
Target harus dibuat yang menantang pemiliknya, karena tanpa situasi yang menantang maka takada semangat mengejarnya. Bahkan justru dapat berakibat pengejar target kehilangan etos kerjanya jika tanpa kerja keraspun target sudah pasti dalam genggaman.
Contoh-contoh target tanpa tantangan:
Jika pencapaian penjualan setiap bulan selama tahun terakhir berkisar Rp 10 juta, kemudian menetapkan target setiap bulan di tahun berikut diangka Rp 9 juta; maka target yang baru itu berarti tidak menantang sama sekali. Bahkan seolah-olah sambil tidurpun sudah pasti akan tercapai. Jadi tak perlu lagi kerja keras untuk meraihnya!
 
Contoh target yang menantang:
Jika pencapaian penjualan setiap bulan selama 6 bulan terakhir berkisar Rp 10 juta, kemudian menetapkan target setiap bulan di tahun berikut naik menjadi Rp 12 juta; maka target yang baru itu bersifat menantang karena harus dikejar dengan penuh semangat dan tentu saja memerlukan suatu kerja keras nan cerdas.
 
Sekarang, apa target Anda di tahun 2014?
Selamat ber’mimpi’.
 
Persembahan
Fikri C. Wardana
Konsultan sales & marketing
Perlu pelatihan untuk karyawan perusahaan Anda?
Hubungi 021-4522044 atau E-mail: fcw_marketing_selling@yahoo.com  
 
fms training & seminars
telepon & fax: 021 – 4522044

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: