Natalia Khrisna Arini; Jatuh di Satu Bisnis, Bangkit di Bisnis yang Lain

Natalia Khrisna Arini; Jatuh di Satu Bisnis, Bangkit di Bisnis yang Lain

M. Gunawan Wibisono

Bercita-cita menjadi pengusaha sukses, nyaris menjadi harapan setiap orang. Bila untuk itu harus  menanggalkan status kekaryawanan pun akan dilakukan. Dan, itulah yang dilakukan Natalia Khrisna Arini. Hasilnya, ternyata tidak sia-sia. Kini, bisnis sepatunya menjamur di mal dan pusat perbelanjaan di Jakarta.

Mimpi menjadi seorang pengusaha besar sudah ada di benak Natalia Khrisna Arini semenjak masih duduk di bangku kuliah. Rencananya, setelah lulus kuliah, Arini, demikian ia biasa disapa, ingin langsung mengembangkan usaha. “Tapi, saya bingung. Usaha apa yang cocok untuk saya?” katanya. Berhubung masih ragu akan keputusan itu, ia memilih bekerja di salah satu production house setelah lulus dari Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Atmajaya, Jakarta, pada tahun 2004. 

Selama bekerja di perusahaan itu, Arini merasakan kejanggalan. Ia merasa “jiwanya” tak senang di pekerjaan itu. “Entah mengapa, hasrat ingin berbisnis justru semakin kencang ketika saya sudah menjadi karyawan,” lanjutnya. Selain itu, ia juga merasa tidak berkembang bila menjadi karyawan. Singkat cerita, Arini pun resign dari perusahaan itu. Ia memulai bisnis kecil-kecilan pada tahun 2006. 

Bisnis pertamanya yaitu menjual t-shirt buatan sendiri. Modal awal, ia dapatkan dari sang Ayah. Menurut cerita Arini, modal itu sempat dijanjikan sang Ayah ketika ia masih duduk di bangku kuliah. “Ayah saya dulu sempat menawarkan untuk memberikan modal usaha ketika saya kuliah. Berhubung hasrat bisnis baru ada setelah menjadi karyawan, akhirnya saya menagih janji itu,” kisahnya.

Bukan hanya t-shirt yang diproduksi Arini, melainkan juga tas dan pernak-pernik lainnya. Semua produknya, ia titip jualkan kepada seorang teman di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Perlahan-lahan, bisnisnya pun maju. Mayoritas t-shirt dan tas yang ia produksi ludes terjual. “Saya semakin bersemangat untuk berbisnis,” akunya.

Melihat peluang bisnis ini, Arini pun segera menambah suntikan modal. Ia menggadaikan mobil miliknya. Namun, sayang, dewi fortuna kali ini tidak berpihak pada Arini. Setelah meminjam uang dengan jaminan mobil tersebut, bisnisnya malah semakin merugi. “Yang ada, saya hanya bisa bayar cicilan. Tak ada untung sama sekali,” tuturnya. 

Arini mengaku terpukul saat itu. Seorang teman pun menyarankan agar bangkit kembali dan mencoba bisnis lain. Kali ini sepatu. Mengapa sepatu? “Karena, kata teman saya, saya ini perempuan yang suka dengan jenis flat shoes,” terangnya. Inspirasi temannya itu ia tangkap. Dan, tak lama kemudian, jadilah bisnis sepatu baru dengan label Wondershoe.

Tanpa pikir panjang, Arini pun mencari pengrajin sepatu yang bisa membuat sepatu sesuai dengan keinginannya. Setelah mencari ke sana ke sini, pilihan jatuh di salah seorang pengrajin sepatu di Bandung. Sebelum meng-order sepatu kepada pengrajin, ia terlebih dahulu mendesain sendiri sepatu-sepatu itu.

Setelah selesai, ia mencari bahan yang cocok untuk sepatunya. “Barulah kemudian saya meng-order ke pengrajin yang ada di Bandung,” katanya. Produksi dilakukan secara sederhana. Sepatu yang sudah dibuat sesuai permintaan, kemudian dikirim ke Jakarta melalui travel. Nah, dari situlah, kemudian Arini mengambil barang-barang pesanannya.

Jadi, menurutnya, bisnis sepatu itu bukan berarti harus mempunyai pabrik dan distribusi yang besar. Yang penting, bila ada keinginan dan niat membuat produk, pasti ada jalan. Tak sampai setahun, sepatu buatannya menjamur di mal dan pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta. “Apalagi sepatu buatan saya menyasar usia 15−30 tahun, sehingga tak pernah sepi peminat,” katanya.

Buktinya, kini, sekitar 400–500 pasang sepatunya terjual setiap bulan. Jumlah itu, belum termasuk permintaan melalui online yang mencapai 200–300 pasang per bulannya. Jumlah yang terbilang cukup tinggi untuk pengusaha baru seperti dia. Sementara, konsumen sepatunya tidak hanya datang dari Jakarta, tapi juga dari Aceh, Surabaya, Yogyakarta, hingga Makassar.

Namun, Arini sadar, bisnisnya akan berhadapan dengan produsen-produsen sepatu besar dari Indonesia maupun luar negeri. Untuk itu, ia harus pandai-pandai menjaga pasar. Caranya, ia membuat desain yang unik dan nyaman dipakai oleh pembeli. Selain itu, ia juga menyasar para pembeli online.

Ia juga membuat strategi dalam bisnisnya, seperti ketika mendesain sepatu, Arini selalu menggunakan busa untuk mencegah agar tidak lecet. Lalu, harga jual sepatu bikinannya cukup terjangkau yakni Rp155 ribu. Kemudian, walau harga sepatu cukup terjangkau, Arini tak pernah memilih bahan murahan untuk sepatu buatannya. Ia selalu membeli bahan sepatu dengan kualitas terbaik. “Karena, ini berhubungan dengan kepuasan,” ucapnya.

Arini juga tidak bosan-bosannya mencari desain-desain sepatu terbaik melalui internet. Desain sepatu itulah yang nantinya menjadi inspirasi dalam memproduksi sepatu. “Dalam berbisnis, inovasi itu sangat diperlukan, agar produk kita tak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: